I made this widget at MyFlashFetish.com.

Selasa, 27 September 2011

cinderela




Di sebuah rumah, hiduplah seorang anak yang sangat cantik dan baik hati. Dia diberi nama Cinderela oleh kedua kakak tirinya. Kakak tiri Cindera itu sangat tidak suka dengan Cinderela. Tiap hari Cinderela selalu mendapatkan perlakuan yang kasar dari kedua kakak dan ibu trinya. Dia selalu disuruh mengerjakan semua pekerjaan rumah dan selalu dibentak-bentak.
Hingga pada suatu hari, datanglah pegawai kerajaan ke rumah mereka. Pegawai kerajaan teresebut ternyata membawa undangan pesta dari sang raja. Kedua kakak dan ibu tiri Cinderala bersorak kegirangan. “Horeeee….. besok kita akan pergi ke Istana. Aku akan berdandan secantik mungkin, agar pangeran suka denganku”, teriak kedua kakak Cinderela. Mendengar teriakan kakak-kakaknya tersebut, lalu Cinderela meminta ijin pada ibu tirinya untuk ikut dalam pesta tersebut. Cinderela sangat sedih, karena ibu tiri dan kakak-kakak tirinya tidak mengijinkan dia ikut dalam acara itu. “Kamu mau pakai baju apa Cinderela? Apa kamu mau ke pesta dengan baju kumalmu itu?”, teriak kakaknya.
Akhirnya waktu pelaksanaan pesta sudah tiba, semuanya sudah berdandan dengan cantik dan sudah siap berangkat. Cinderela hanya bias memandangi kakak dan ibu tirinya. Dia sangat sedih sekali,karena tidak dapat ikut dalam pesta itu. Dia hanya bisa menangis di dalam kamar dan membayangkan meriahnya pesta tersebut. “Andaikan aku bisa ikut dalam pesta itu, pasti aku akan senang sekali”, gumam Cindera. Tidak berapa lama setelah Cinderela berkata, tiba-tiba ada suara dari belakangnya. “Janganlah engkau menangis Cinderela”. Mendengar suara itu, lalu Cinderela berbalik. Ternyata dia melihat ada seorang peri yang sedang tersenyum padanya. “Kamu pasti bisa dating ke pesta itu Cinderela”, kata peri itu. “Bagaimana caranya? Aku tidak punya baju pesta dan saudara-saudaraku juga sudah berangkat.”, tanya Cinderela pada peri itu.
“Tenanglah Cinderela, bawalah empat ekor tikus dan dua ekor kadal kepadaku", kata peri itu. Setelah semuanya dikumpulkan Cinderela, peri membawa tikus dan kadal tersebut ke kebun labu di halaman belakang. "Sim salabim!" sambil menebar sihirnya, terjadilah suatu keajaiban. Tikus-tikus berubah menjadi empat ekor kuda, serta kadal-kadal berubah menjadi dua orang sais. Cinderela pun disulap menjadi Putri yang sangat cantik, dengan memakai gaun yang sangat indah dan sepatu kaca.
"Cinderela, pengaruh sihir ini akan lenyap setelah lonceng pukul dua belas malam, jadi lamu harus pulang sebelum pukul dua belas”,kata peri itu. "Ya ibu peri. Terimakasih", jawab Cinderela. Setelah semuanya sudah siap, kereta kuda emas segera berangkat membawa Cinderela menuju istana. Setelah tiba di istana, ia langsung masuk ke aula istana. Begitu masuk, pandangan semua yang hadir tertuju pada Cinderela. Mereka sangat kagum dengan kecantikan Cinderela. "Cantik sekali putri itu! Putri dari negara mana ya ?" Tanya mereka.
Akhirnya sang Pangeran datang menghampiri Cinderela. "Putri yang cantik, maukah Anda menari dengan saya ?" katanya. "Ya…," kata Cinderela sambil mengulurkan tangannya sambil tersenyum. Mereka menari berdua dalam irama yang pelan. Ibu dan kedua kakak Cinderela yang berada di situ tidak menyangka kalau putrid yang cantik itu adalah Cinderela. Pangeran terus berdansa dengan Cinderela. "Orang seperti andalah yang saya idamkan selama ini," kata sang Pangeran.
Karena terlalu senag dan menikmati pesta itu, Cinderela lupa akan waktu. Jam mulai berdentang 12 kali. "Maaf Pangeran saya harus segera pulang..,". Cinderela menarik tangannya dari genggaman pangeran dan segera berlari ke luar Istana. Di tengah jalan, Cinderela terjatuh dan sepatunya terlepas sebelah, tapi Cinderela tidak memperdulikannya, ia terus berlari. Pangeran mengejar Cinderela, tetapi ia kehilangan jejak Cinderela. Di tengah anak tangga, ada sebuah sepatu kaca kepunyaan Cinderela. Pangeran mengambil sepatu itu. "Aku akan mencarimu," katanya bertekad dalam hati. Meskipun Cinderela kembali menjadi gadis yang penuh berpakaian tidak bagus lagi, ia amat bahagia karena bisa pergi pesta.
Esok harinya, para pengawal yang dikirim Pangeran datang ke rumah-rumah yang ada anak gadisnya di seluruh pelosok negeri untuk mencocokkan sepatu kaca dengan kaki mereka, tetapi tidak ada yang cocok. Sampai akhirnya para pengawal tiba di rumah Cinderela. "Kami mencari gadis yang kakinya cocok dengan sepatu kaca ini," kata para pengawal. Kedua kakak Cinderela mencoba sepatu tersebut, tapi kaki mereka terlalu besar. Mereka tetap memaksa kakinya dimasukkan ke sepatu kaca sampai lecet. Pada saat itu, pengawal melihat Cinderela. "Hai kamu, cobalah sepatu ini," katanya. Ibu tiri Cinderela menjadi marah," tidak akan cocok dengan anak ini!". Kemudian Cinderela menjulurkan kakinya. Ternyata sepatu tersebut sangat cocok. "Ah! Andalah Putri itu," seru pengawal gembira. "Iya akulah wanita yang dicari pangeran”,kata Cinderela. “Selamat Cinderela!” Mendengar kata itu, Cinderela lalu menoleh kebelakang, dan dilihatnya ibu peri sudah berada di belakangnya. "Mulai sekarang hiduplah berbahagia dengan Pangeran di istana. Sim salabim!.," katanya peri tersebut.
Begitu peri membaca mantranya, Cinderela berubah menjadi seorang Putri yang memakai gaun yang sangat bagus. "Pengaruh sihir ini tidak akan hilang sampai kapanpun Cinderela”, kata sang peri. Cinderela kemudian dibawa oleh pengawal istana untuk bertemu dengan sang pangeran. Sesampainya di Istana, Pangeran sangat senang sekali,dan menyambut kedatangan Cinderela. Akhirnya Cinderela menikah dengan Pangeran dan hidup berbahagia di dalam Istana.

Dongeng "Cinderela" ini diceritakan kembali oleh kak Ghulam Pramudiana

Jack dan Pohon Kacang


PDF Print E-mail
Di sebuah desa kecil, hiduplah seorang anak laki-laki yang bernama Jack. Ia tinggal di rumah dengan ibunya. Hidup mereka sangat memprihatinkan, dan harta yang mereka miliki hanyalah seekor sapi tua yang produksi susunya mulai berkurang. Hingga suatu hari, ibu menyuruh Jack pergi ke pasar untuk menjual sapi mereka satu-satunya itu. Uang hasil penjualan sapi tersebut nantinya akan digunakan untuk membeli biji gandum dan kemudian akan menanamnya di ladang belakang rumah mereka.
Keesokan harinya, Jack pergi ke pasar untuk menjual sapinya. Di tengah perjalanan menuju ke pasar, Jack bertemu dengan seorang kakek. Kakek tersebut lalu menyapa Jack. “Hai nak, mau dibawa kemana sapi itu?” Lalu Jack menjawab,”Aku mau menjual sapi ini ke pasar Kek”. Setelah mendengar jawaban Jack, kakek itu lalu menawarkan untuk menukar sapinya dengan sebutir kacang. “Maukah engkau menukar sapimu dengan kacang ajaib ini?", kata kakek itu. "Apa, menukar sebutir kacang dengan sapiku?" kata Jack terkejut. "Jangan menghina, ya! Ini adalah kacang ajaib. Jika kau menanamnya dan membiarkannya semalam, maka pagi harinya kacang ini akan tumbuh sampai ke langit, kata kakek itu menjelaskan. "Jika begitu baiklah," jawab Jack.
Sesampainya di rumah, Jack menceritakan semuanya kepada ibunya. Setelah mendengar cerita Jack, ibu sangat terkejut dan marah. "Bagaimana bisa kau tukar sapi itu dengan sebutir biji kacang ini? Bagaimana mungkin kita hidup hanya dengan sebutir biji kacang?" Saking marahnya, sang Ibu melempar biji kacang tersebut keluar jendela. Tapi apa yang terjadi keesokan harinya? Ternyata ada pohon raksasa yang tumbuh sampai mencapai langit. "Wah, ternyata benar apa yang dikatakan oleh kakek itu, gumam Jack". Lalu dengan hati-hati ia langsung memanjat pohon raksasa itu. "Aduh, mengapa tidak sampai juga ke ujung pohon ya?" kata Jack dalam hati.
Tidak berapa lama kemudian, Jack melihat ke bawah. Ia melihat rumah-rumah menjadi sangat kecil. Akhirnya Jack sampai ke awan. Di sana ia bisa melihat sebuah istana yang sangat besar sekali. "Aku haus dan lapar, mungkin di istana itu aku menemukan makanan," gumam Jack. Sesampainya di depan pintu istana, ia mengetuknya dengan keras. "Kriek..." pintu yang besar itu terbuka. Ketika ia menengadah, muncul seorang raksasa wanita yang besar. "Ada apa nak?", kata wanita itu. "Selamat pagi, saya haus dan lapar, bolehkah saya minta sedikit makanan?" Wah, kau anak yang sopan sekali. Masuklah! Makan di dalam saja, ya!" kata wanita itu ramah.
Ketika sedang makan, tiba-tiba terdengar suara langkah kaki yang keras, Duk Duk! Ternyata suami wanita itu yang datang. Ia adalah Raksasa Pemakan Manusia. Dengan cepat wanita itu berkata pada Jack. "Nak, cepatlah sembunyi! Suamiku datang." "Huaaa…. Aku pulang. Cepat siapkan makan!" teriak raksasa itu. Jack menahan nafas di dalam tungku. Raksasa itu tiba-tiba mencium bau manusia. Lalu ia mengintip ke dalam tungku. Cepat-cepat istrinya berkata,"Itu bau manusia yang kita bakar kemarin. Sudahlah tenang saja. Ini makanannya sudah siap."
Setelah makan, raksasa mengeluarkan pundi-pundi yang berisi uang emas curiannya, setelah lama menghitung dia merasa sangat capek. Tak berapa lama kemudian raksasa itu akhirnya tertidur karena lelah. Melihat hal itu, Jack segera keluar dari persembunyiannya. Sebelum pulang, ia mengambil uang emas hasil curian si raksasa itu sambil berjalan mengendap-endap menuju pohon kacang. Jack terus menuruni pohon kacang dan akhirnya sampai di rumah. "Ibu… lihatlah emas ini. Mulai sekarang kita jadi orang kaya." "Tak mungkin kau mendapat uang sebanyak ini dengan mudah. Apa yang kamu lakukan?" Lalu Jack menceritakan semua kejadian pada ibunya. "Kau terlalu berani Jack! Bagaimana jika raksasa itu datang untuk mengambilnya kembali," kata ibunya dengan kuatir. Semenjak mendapatkan uang emas, tiap harinya Jack hanya bersantai-santai saja dengan uang curiannya. Tidak berapa lama, uang hasil curiannya pun habis. Jack kembali memanjat pohon kacang, untuk menuju ke istana. "Eh kau datang lagi. Ada apa?" kata istri raksasa itu. "Selamat siang Bu. Karena saya belum makan dari pagi, perutku jadi lapar sekali." Ibu yang baik itu diam saja, tapi ia tetap memberi Jack makan siang. Tiba-tiba…. Duk Duk Duk! Terdengar suara langkah kaki raksasa. Seperti dulu, Jack kembali bersembunyi di tungku.
Setelah masuk ke rumahnya, raksasa itu makan dengan lahapnya. Setelah itu ia meletakkan ayam hasil curiannya ke atas meja sambil berkata, "Ayam, keluarkan telur emasmu." Lalu ayam itu berkokok, "kukuruyuuk….," ia mengeluarkan sebutir telur emas. Raksasa merasa puas, ia minum sake sampai akhirnya tertidur. "Telur emas? Wah hebat!" pikir Jack. Diam-diam ia menangkap ayam itu dan cepat-cepat lari pulang ke rumah. Dengan ayam petelur emasnya, Jack menjadi orang yang malas dan suka bersantai-santai saja. Karena tiap hari ayam itu mengeluarkan telur lebih dari seharusnya, ayam itu pun akhirnya mati. Jack merasa bingung, karena persediaan duitnya kian menipis. Akhirnya Jack memutuskan untuk kembali lagi ke istana raksasa itu. Dan lagi-lagi ia bersembunyi di tungku, ketika raksasa laki-laki pulang sambil membawa harpa. Sambil minum sake, raksasa berkata," Hai harpa, mainkan sebuah melodi yang indah." Keajaiban pun terjadi, harpa itu memainkan sendiri sebuah melodi indah. Raksasa pun mulai tertidur dengan pulas setelah mendengarkan merdunya musik yang dimainkan harpa itu.
Seperti biasanya, Jack mulai beraksi pada saat raksasa tertidur. Jack lalu keluar dari persembunyiannya, dan langsung menuju meja tempat harpa diletakkan. Tapi saat Jack akan mengambil harpa, tiba-tiba saja ada sesuatu yang mengejutkan. Harpa itu berteriak dengan keras, “Tuanku, ada pencuri…!!!”  Raksasa itu pun terbangun. Ia segera mengejar Jack yang berlari sambil membawa harpa milik raksasa itu. Raksasa terus mengejar, menuruni pohon kacang. Ketika hampir sampai di bawah, Jack berteriak dengan suara keras. "Ibuu…. Ambilkan kapak dari gudang! cepat! cepat! Betapa terkejutnya sang Ibu melihat sosok raksasa yang datang mengejar Jack, ia gemetar karena amat takut. Begitu turun dari pohon, Jack segera menebang pohon kacang itu dengan kapaknya.
Dengan suara yang keras, pohon kacang rubuh. Raksasa itu pun jatuh ke tanah, dan mati. Ibu sangat lega melihat Jack selamat. Sambil mengangis ia berkata : "Jack, jangan lagi kau melakukan hal yang menyeramkan seperti ini. Betapapun miskinnya kita bekerjalah dengan sungguh-sungguh. Dengan bersyukur kepada Tuhan, pasti kita berdua akan hidup dengan baik." "Maafkan saya Ibu, mulai sekarang saya akan bekerja dengan sungguh-sungguh, kata Jack pada Ibunya." Sejak saat itu, Jack bekerja dengan rajin setiap harinya. Dengan ditemani harpa yang memainkan melodi-melodi indah yang menambah semangat kerja Jack.

pulau hantu

Tersebutlah dua orang jagoan yang selalu ingin menunjukkan dirinya lebih jago dari yang lain. Pada suatu hari, mereka bertemu di perairan sebelah selatan Singapura. 
Tanpa ba atau bu, mereka langsung saling menyerang. Mereka bertarung lama sekali hingga tubuh mereka bersimbah darah. Karena sama-sama kuat, tak ada tanda-tanda siapa yang akan kalah. 
Jin Laut tidak suka dengan pertarungan itu karena darah mereka mengotori laut. Jin Laut lalu menjungkirbalikkan perahu mereka. Maksudnya agar mereka berhenti bertarung. Ternyata, mereka tetap bertarung. Dengan kesaktiannya masing-masing, mereka bertarung di atas air. 
“Hei, aku perintahkan kalian berhenti beratarung! Ini wilayah kekuasaanku. Kalau tidak…” 
Bukannya berhenti, kedua jagoan itu malah bertempur lebih seru. Dengan isyarat tangan, mereka bahkan seperti mengejek Jin Laut. 
Jin Laut marah. Dia menyemburkan air ke wajah kedua jagoan itu sehingga pandangan mereka terhalang. Karena tak dapat melihat dengan jelas, kedua jagoan itu bertempur secara membabi-buta. Mereka mengayunkan pedang ke sana-kemari sekehendajk hati sampai akhirnya bersarang di tubuh lawan masing-masing. Kedua jagoan itu pun menemui ajalnya. 
Para dewa di kayangan mura karena Jin Laut turut campur urusan manusia. Mereka memperingatkan Jin Laut untuk tidak lagi ikut campur urusan manusia. Jin Laut mengaku salah dan mencoba menebus dosa dengan membuatkan tempat khusus agar roh kedua jagoan itu dapat bersemayam dengan tenang. Jin Laut menyulap sampan yang ditumpangi kedua jagoan itu menjadi pulau tempat bersemayam roh mereka. Orang-orang kemudian menyebut pulau itu sebagai Pulau Hantu. 

(Dari ASEAN Folk Literature, diceritakan kembali oleh Prih Suharto, prih_suharto @yahoo. com)
Istana Bunga


Sunday, 11 April 2010 13:51
Dahulu kala, hiduplah raja dan ratu yang kejam. Keduanya suka berfoya-foya dan menindas rakyat miskin. Raja dan Ratu ini mempunyai putra dan putri yang baik hati. Sifat mereka sangat berbeda dengan kedua orangtua mereka itu. Pangeran Aji Lesmana dan Puteri Rauna selalu menolong rakyat yang kesusahan. Keduanya suka menolong rakyatnya yang memerlukan bantuan.

Suatu hari, Pangeran Aji Lesmana marah pada ayah bundanya,  "Ayah dan Ibu jahat. Mengapa menyusahkan orang miskin?!"
Raja dan Ratu sangat marah mendengar perkataan putra mereka itu.
"Jangan mengatur orangtua! Karena kau telah berbuat salah, aku akan menghukummu. Pergilah dari istana ini!" usir Raja.
Pangeran Aji Lesmana tidak terkejut. Justru Puteri Rauna yang tersentak, lalu menangis memohon kepada ayah bundamya, "Jangan, usir Kakak! Jika Kakak harus pergi, saya pun pergi!"

Raja dan Ratu sedang naik pitam. Mereka membiarkan Puteri Rauna pergi mengikuti kakaknya. Mereka mengembara. Menyamar menjadi orang biasa. Mengubah nama menjadi Kusmantoro dan Kusmantari. Mereka pun mencari guru untuk mendapat ilmu. Mereka ingin menggunakan ilmu itu untuk menyadarkan kedua orangtua mereka.

Keduanya sampai di sebuah gubug. Rumah itu dihuni oleh seorang kakek yang sudah sangat tua. Kakek sakti itu dulu pernah menjadi guru kakek mereka. Mereka mencoba mengetuk pintu.
"Silakan masuk, Anak Muda," sambut kakek renta yang sudah tahu kalau mereka adalah cucu-cucu bekas muridnya. Namun kakek itu sengaja pura-pura tak tahu. Kusmantoro mengutarakan maksudnya,  "Kami, kakak beradik yatim piatu. Kami ingin berguru pada Panembahan."

Kakek sakti bernama Panembahan Manraba itu tersenyum mendengar kebohongan Kusmantoro. Namun karena kebijakannya, Panembahan Manraba menerima keduanya menjadi muridnya.
Panembahan Manraba menurunkan ilmu-ilmu kerohanian dan kanuragan pada Kusmantoro dan Kusmantari. Keduanya ternyata cukup berbakat. Dengan cepat mereka menguasai ilmu-ilmu yang diajarkan. Berbulan-bulan mereka digembleng guru bijaksana dan sakti itu.

Suatu malam Panembahan memanggil mereka berdua. "Anakku, Kusmantoro dan Kusmantari. Untuk sementara sudah cukup kalian berguru di sini. Ilmu-ilmu lainnya akan kuberikan setelah kalian melaksanakan satu amalan."
"Amalan apa itu, Panembahan?" tanya Kusmantari.
"Besok pagi-pagi sekali, petiklah dua kuntum melati di samping kanan gubug ini. Lalu berangkatlah menuju istana di sebelah Barat desa ini. Berikan dua kuntum bunga melati itu kepada Pangeran Aji Lesmana dan Puteri Rauna. Mereka ingin menyadarkan Raja dan Ratu, kedua orang tua mereka."

Kusmantoro dan Kusmantari terkejut. Namun keterkejutan mereka disimpan rapat-rapat. Mereka tak ingin penyamaran mereka terbuka.
"Dua kuntum melati itu berkhasiat menyadarkan Raja dan Ratu dari perbuatan buruk mereka. Namun syaratnya, dua kuntum melati itu hanya berkhasiat jika disertai kejujuran hati," pesan Panembahan Manraba.

Ketika menjelang tidur malam, Kusmantoro dan Kusmantari resah. Keduanya memikirkan pesan Panembahan. Apakah mereka harus berterus terang kalau mereka adalah Pangeran Aji Lesmana dan Puteri Rauna? Jika tidak berterus terang, berarti mereka berbohong, tidak jujur. Padahal kuntum melati hanya berkhasiat bila disertai dengan kejujuran.

Akhirnya, pagi-pagi sekali mereka menghadap Panembahan.
"Kami berdua mohon maaf, Panembahan. Kami bersalah karena tidak jujur kepada Panembahan selama ini."
Saya mengerti, Anak-anakku. Saya sudah tahu kalian berdua adalah Pangeran Aji Lesmana dan Puteri Rauna. Pulanglah. Ayah Bundamu menunggu di istana."

Setelah mohon pamit dan doa restu, Pangeran Aji Lesmana dan Puteri Rauna berangkat menuju ke istana. Setibanya di istana, ternyata Ayah Bunda mereka sedang sakit. Mereka segera memeluk kedua orang tua mereka yang berbaring lemah itu.

Puteri Rauna lalu meracik dua kuntum melati pemberian Panembahan. Kemudian diberikan pada ayah ibu mereka. Ajaib! Seketika sembuhlah Raja dan Ratu. Sifat mereka pun berubah. Pangeran dan Puteri Rauna sangat bahagia. Mereka meminta bibit melati ajaib itu pada Panembahan. Dan menanamnya di taman mereka. Sehingga istana mereka dikenal dengan nama Istana Bunga. Istana yang dipenuhi kelembutan hati dan kebahagiaan.



OLEH Maulana Febriyansyah
kiriman: RINA YUNI EKAWATI <RINAYUNIEKAWAT @YAHOO .CO .ID>

Kisah Thé Tjong-Khing (Purworejo, 1933

Peran Gambar dalam Buku Dongeng Anak: Kisah Thé Tjong-Khing (Purworejo, 1933), seorang ilustrator buku cerita anak-anak yang kondang di Belanda

Kala kita kecil dulu orang tua kita sering memberikan buku-buku cerita anak-anak yang isi halamannya tipis, tulisannya sedikit, sederhana dan mudah dimengerti oleh anak-anak. Hal terpenting selain itu semua adalah gambar-gambarnya yang menarik dan memancing imajinasi, sehingga anak-anak terpancing untuk membaca dan mengetahui isi bukunya. Orang tua kita dulu juga punya kebiasaan menceritakan dongeng sebelum kita tidur. Saat itu khayalan anak-anak terbang menjulang menembus batas-batas logika orang dewasa. Imajinasi anak-anak memang seringkali membumbung tinggi dan orang dewasa hanya bisa tersenyum dan berkomentar, “dasar anak-anak”. Lain ceritanya jika ada orang dewasa yang nekad terjun ke dunia anak-anak, melalui dongeng. Khing, sapaan akrab Thé Tjong-Khing, mungkin tidak dikenal anak-anak Indonesia. Kiprah beliau sebagai seorang pembuat ilustrasi buku cerita anak-anak berada jauh di Belanda. Gaya menggambarnya sangat digemari anak-anak di Belanda. Lantas seberapa jauh Khing mendalami dunia buku anak-anak ini?

Photobucket - Video and Image Hosting
Salah satu halaman pada Waar is de Taart?

Woutertje Pieterse Prijs, penghargaan tertinggi untuk buku cerita anak-anak (children literature) di Belanda, tahun 2005 ini dianugerahkan kepada buku berjudul “Waar is de Taart?” karya Thé Tjong-Khing. Penganugerahan penghargaan Woutertje Pieterse kali ini benar-benar mengejutkan, karena penghargaan yang biasa diberikan pada buku cerita baru pertama kali ini diberikan kepada sebuah buku yang hanya berisikan gambar-gambar, sama sekali tanpa kata-kata. Terlebih lagi, penghargaan yang biasanya diberikan kepada penulis, pertama kalinya diberikan kepada seorang ilustrator. Thé Tjong-Khing, yang memang sudah kondang sebagai ilustrator buku cerita anak-anak di Belanda, juga patut berbangga, sebab “Waar is de Taart?” adalah buku pertama yang ia garap sendiri, mulai dari ide, skenario, hingga pelaksanaannya. Yang menarik lagi bagi kita adalah latar belakang Thé Tjong-Khing, yang ternyata kelahiran Purworejo dan sempat mengecap pendidikan di akademi senirupa di Bandung (kini Fakultas Seni Rupa dan Desain ITB), di mana kawan-kawan masa studinya banyak yang kita kenal sekarang, antara lain “Pak Raden” Soejadi, Prof. Sudjoko, dan (alm.) But Muchtar. Berikut adalah sekelumit kisah perjalanan karir Thé Tjong-Khing, yang akrab dengan panggilan Khing, sejak meninggalkan Indonesia dan mulai menetap di Belanda, hingga sekarang.

Photobucket - Video and Image Hosting
Khing (ketiga dari kiri, mengenakan topi) bersama teman2 kuliahnya dI Bandung. Paling kanan adalah 'Pak Raden' Soejadi

Photobucket - Video and Image Hosting
Khing (kanan depan) bersama teman2 kuliahnya di Bandung

Di usianya yang menjelang 72 tahun, Khing tampak masih enerjik dan penuh semangat, perilakunya yang ramah dan periang, dan rasa humor yang tinggi pastilah turut membuatnya awet muda. Sehari-harinya dihabiskan untuk bekerja di studionya, yang adalah juga rumah kediamannya di Haarlem. Sementara, di waktu senggangnya, Khing mengunjungi dan terkadang juga mengasuh keempat cucu balitanya, para buah hati dari kedua putranya yang tinggal di Amsterdam. Ketika dijumpai sore itu di kediamannya, Pak Khing tengah menggarap buku berikutnya, “Waar is de Taart?” seri kedua, dan ia dengan senang hati menunjukkan lembaran-lembaran gambar yang telah diselesaikannya. Sambil menikmati ‘jajanan pasar’ yang dihidangkan, Khing mulai menceritakan masa lalunya.

Photobucket - Video and Image Hosting
Thé Tjong-Khing, duduk santai di kediamannya

Si Khing kecil, pada usia sekitar 12 tahun, sudah berketetapan untuk mengisi hidupnya dengan menggambar. Pada awalnya, ia banyak meniru tokoh kartun Walt Disney, terutama Mickey Mouse dan Donald Duck, dan hasilnya sangat baik, hingga pernah suatu kali seorang pamannya mempertontonkan kemampuannya di depan banyak orang. Menginjak usia remaja, ia mulai menggambar bintang-bintang film masa itu, seperti Marilyn Monroe dan Sophia Loren, untuk diberikan kepada teman-temannya para pengagum para bintang film tsb. Kala itu Khing juga gemar membaca dan meniru cerita bergambar (cergam) “Flash Gordon” karya Alex Raymond. Mengingat kegemarannya menggambar, tidaklah heran ketika Khing memilih untuk melanjutkan studi di akademi senirupa di Bandung. Namun, karena Khing merasa tidak puas dengan apa yang diperolehnya di Bandung, ia pergi ke Belanda pada tahun 1956, dengan tekad untuk mencoba peruntungannya di sana. Ternyata pilihannya ini tidak keliru, sebab keberuntungan benar-benar datang kepadanya, di setiap saat ia memerlukannya.

Photobucket - Video and Image Hosting
Salah satu halaman pada seri Arman & Ilva

Setiba di Belanda, Khing memulai studinya di jurusan periklanan di Kunstnijverheidsschool (kini Rietveld Academie) di Amsterdam. Namun di sini pun ia tidak betah dan keluar sebelum menyelesaikan studinya. Ia melamar kerja di Marten Toonder Studio, yang pada masa itu termasuk studio komik terbesar di Belanda (cergam Toonder yang paling terkenal berjudul “Tom Poes en Heer Bommel”), dengan menunjukkan portfolio hasil karyanya selama ia belajar di Bandung. Meskipun lamarannya ditolak, Khing tetap memohon pada Marten Toonder agar diperbolehkan tinggal di studionya, hanya dengan satu meja dan kursi, untuk bekerja apapun, tanpa bayaran. Di sini keberuntungan pertama Khing datang: studio Toonder mengabulkan permohonannya ini, dan bukan hanya meja-kursi yang mereka sediakan, namun mereka juga membayar Khing sejumlah 60 Gulden per minggu, yang pada masa itu adalah jumlah yang cukup besar untuk seorang pemagang.
Khing banyak belajar sambil membantu para karyawan gambar (draftsmen) di studio Toonder. Ia melihat bahwa seorang karyawan gambar di studio Toonder, yang bekerja membuat cergam bersambung untuk sebuah harian, selalu terpaksa membawa pulang pekerjaannya. Khing tahu bahwa istri si karyawan tersebut sebenarnya keberatan dengan kebiasaannya ini, namun mereka tak punya pilihan lain. Khing pun menawarkan jasanya untuk membantu koleganya ini sehingga ia dapat berakhir-pekan dengan keluarganya tanpa dibebani pekerjaan. Lama kelamaan, si kolega ini tak mau kehilangan Khing sebagai asistennya. Inilah yang sebenarnya direncanakan oleh Khing, untuk memperoleh cara agar dapat tetap tinggal di Belanda setelah masa ijin tinggalnya habis. Sehingga ketika polisi imigrasi Belanda hendak menggiring Khing ke pelabuhan untuk dipulangkan ke Indonesia, studio Toonder berhasil mencegah kepergian Khing dengan menyatakan pada polisi imigrasi bahwa Khing adalah pegawai mereka, tanggung jawab mereka. Sejak itu resmilah Khing menjadi pegawai di Toonder Studio.

Setelah beberapa lama bekerja untuk Toonder Studio, Khing memutuskan untuk keluar dan membuat komiknya sendiri. Ini adalah masa ketika ia memulai cergam fiksi-fantasi berserinya, bersama penulis bernama Lo Hartog van Banda, untuk dimuat dalam surat kabar. Seri fiksi-fantasi berjudul “Arman & Ilva” ini kemudian diterbitkan sebagai album cergam, dan memperoleh penghargaan SFAN (Vereniging voor Science Fiction & Fantasy) pada tahun 1971. Di tengah-tengah penggarapan cergam ini, Khing berpikir untuk mengerjakan hal lain, seperti ilustrasi. Di sinilah keberuntungan datang lagi padanya. Ia bertemu seseorang di sebuah pesta: Ton Schelling, seorang penulis buku cerita anak-anak. Kebetulan penulis ini berdarah campuran Indonesia-Belanda, dan dikenal sebagai orang yang sangat impulsif. Ia begitu senang bertemu dengan seorang yang juga berasal dari Indonesia dan pandai menggambar, sehingga dengan segera ia menawarkan Khing untuk menjadi ilustrator buku-bukunya. Khing segera menerima tawarannya dan mereka mulai bekerja sama. Tulisan-tulisan Schelling merupakan seri petualangan untuk anak muda, dan gaya gambar Khing pada buku-buku Schelling merupakan transisi dari gaya cergam fiksi-fantasi menjadi gaya ilustrasi untuk buku cerita. Sementara bekerja dengan Schelling, Khing masih menyelesaikan seri "Arman & Ilva“, namun baginya pembuatan cergam dirasanya terlalu banyak memakan waktu dan terlalu monoton. Sehingga Khing memutuskan untuk meninggalkan komik untuk beralih ke ilustrasi, menghadapi tantangan baru.

Photobucket - Video and Image Hosting
Salah satu halaman pada seri Arman & Ilva

Tepat pada saatnya, Khing menemukan keberuntungannya yang berikut, yang membawanya ke gaya gambar yang merupakan ciri khasnya hingga kini. Ia dihubungi oleh seorang penulis buku anak-anak yang hendak mengubah anggapan bahwa cergam atau komik hanyalah membuat anak-anak bodoh. Untuk mengubah anggapan ini, si penulis berencana mengambil ilustrator yang adalah juga komikus, dan pilihannya jatuh pada Khing. Semua keberuntungan ini, dilihat Khing juga dibantu oleh fakta bahwa pada masa itu belum banyak orang yang sepenuhnya bekerja sebagai praktisi ilustrator atau komikus profesional, dan gaya dan teknik menggambar pun masih terbatas, sehingga mempermudah Khing memperoleh berbagai kesempatan tersebut. Sejak beralih dari komik ke ilustrasi, hingga kini Khing tetap menekuni profesi sebagai ilustrator dan belum membuat komik lagi. Namun namanya tetap diaku sebagai salah seorang tokoh penting dalam sejarah komik Belanda.

Khing telah mendapat beberapa penghargaan tertinggi untuk ilustrasi, antara lain Gouden Penseel yang diperolehnya sebanyak tiga kali: pada th 1978 (untuk buku berjudul "Wiele Wiele Stap“), 1985 ("Kleine Sofie en Lange Wapper“) dan 2003 ("Het woordenboek van Vos en Haas“), Jonge Uil pada sekitar th 1999 untuk "Vos en Haas“ dan puncaknya adalah Wouterje Pieterse Prijs untuk "Waar is de Taart?“ pada tahun 2005. Khing mengakui bahwa "Waar is de Taart?“ merupakan karyanya yang paling memuaskan dan adalah prestasinya yang tertinggi, namun ia juga sangat menyukai karyanya pada buku "Het Grote Avontuur van God en Mens“ (2004), yang berisi kisah-kisah dari alkitab untuk anak-anak.
Dari sekian banyak karya Khing, hanya satu yang menghubungkannya kembali ke Indonesia. Khing pernah bekerja sama dengan Fair Trade untuk membuat buku anak-anak berjudul "Komkommermeisje“ (2003) yang merupakan adaptasi dari kisah "Timun Mas“. Buku ini diterbitkan oleh Fair Trade dalam rangka mempromosikan produk kerajinan dari negara-negara berkembang, termasuk Indonesia. Khing dengan sendirinya terpilih untuk menggarap buku ini karena reputasi sekaligus latar belakangnya. Impresi hutan yang rimbun dan pohon beringin raksasa Khing dapatkan dari pengalamannya kala masih bocah dulu, di rumah orang tuanya di Cirebon.

Photobucket - Video and Image Hosting
Beringin raksasa pada buku Komkommermeisje (Timun Mas)
Di samping menggambar komik dan ilustrasi, Khing sempat mencoba mengerjakan hal-hal lain. Pada sekitar tahun 1980an, Khing sempat diminta untuk mengajar di jurusan ilustrasi pada Rietveld Academie di Amsterdam. Ia mencoba mengajar selama beberapa saat, namun segera mengundurkan diri karena menyadari bahwa ia tidak memiliki ketrampilan untuk mengajar dan merasa tak bisa menjadi guru yang baik. Sejak itu ia memutuskan untuk terus memproduksi gambar saja, dan tidak lagi hendak mengajar.
Setelah menggarap ilustrasi untuk sekian banyak buku dan skenario, Khing sempat tergoda untuk menulis cerita sendiri. Terutama saat ia menerima sebuah transkrip dari salah satu penerbitnya untuk dibuatkan ilustrasi, yang dianggapnya sangat buruk, sehingga makin memotivasinya untuk membuat transkrip yang lebih menarik dari yang satu ini. Khing menulis selama beberapa bulan dan setelah selesai, ia merasa puas akan tulisannya. Namun ketika ia baca kembali teksnya setelah sekian lama, ia menyadari bahwa tulisannya jauh lebih buruk dari transkrip yang pernah ia terima dari penerbitnya. Khing pernah mencoba menulis sekali lagi, namun tetap saja gagal. Hal ini juga yang memotivasinya untuk membuat buku tanpa kata-kata; inilah awal dari ide pembuatan buku "Waar is de Taart?“.
Hal yang paling menantang dari pembuatan buku tanpa kata-kata adalah kejelasan gambar dalam menceritakan sebab-akibat dan kesinambungan. Khing telah berhasil mewujudkan hal ini, mengingat pendapat juri Woutertje Pieterse Prijs bahwa buku ini telah dapat menceritakan semuanya dengan baik, tanpa kehilangan satu kata pun. Dengan buku "Waar is de Taart?“, Khing juga hendak membuat pembacanya membolak-balik halaman, dari belakang ke depan, dan sebaliknya, dan seterusnya, untuk menemukan sekian banyak sekuel cerita yang disampaikannya melalui gambar. Hal ini pun telah tercapai dengan baik, melihat begitu banyaknya detail menarik yang dapat dilacak dari tiap halaman dalam bukunya ini.

Photobucket - Video and Image Hosting
Tokoh2 pada buku Vos en Haas, yg telah banyak dikenal anak2 Belanda

Hingga kini, Khing masih terlihat selalu cekatan dan bersemangat dalam menggarap karya-karyanya, dan mewujudkan rencana-rencananya. Kecintaannya pada pekerjaan dan sikap positifnya dapat menjadi contoh yang berharga bagi para penerusnya. Berbagai penghargaan yang diterimanya tidak membuatnya besar kepala, bahkan sebaliknya, makin memacunya untuk terus menghasilkan yang terbaik.
Khing mengakui bahwa dalam usianya kini, produktivitasnya menurun. Ia tak dapat lagi begadang menyelesaikan gambar, atau bekerja hingga larut malam, dan ia hanya dapat bekerja dengan baik dengan cahaya natural, bukan cahaya lampu. Namun demikian, bila ditanya apa yang membuatnya terus produktif hingga kini, Khing hanya tertawa dan menjawab "Sebab saya tidak tahu berbuat apa lagi selain menggambar. Mungkin saya hanya akan duduk berdiam diri di pojok sana, sebab tak tahu mau berbuat apa lagi. Jadi selama masih bisa menggambar, saya akan tetap melakukan itu“.

Photobucket - Video and Image Hosting
Menara Babel

Kita bisa belajar banyak dari kisah perjalanan karir Khing. Semangat dan ketekunannya dapat menjadi inspirasi bagi banyak ilustrator muda, tidak hanya di Belanda, namun juga kita di Indonesia. Terutama untuk memperbaiki kualitas dan kuantitas buku cerita anak-anak produksi dalam negri, yang perkembangannya tidak terlalu pesat – apalagi bila dibandingkan dengan limpahan seri komik impor atau computer game terbaru.
Sikap Khing yang pantang menyerah juga patut menjadi contoh. Di kala terbentur masalah, atau berniat menghadapi tantangan baru, Khing selalu bertekad mencari jalan keluar dengan mengandalkan segenap kemampuannya. Usaha Khing ini juga tidak sia-sia, mengingat besarnya perhatian dan dukungan dari berbagai pihak untuk mengadakan wacana bagi anak-anak: orang tua, pemerintah, penerbit, berbagai institusi, dan yang terpenting, anak-anak sendiri.
Mengagumkan, memang, bahwa di negara maju seperti Belanda, di mana berbagai macam media dapat diakses dengan bebas, buku cerita anak-anak masih mendapat tempat khusus. Salah satu hasilnya adalah fakta bahwa anak-anak Belanda menduduki peringkat kedua di dunia (setelah Swedia) sebagai anak-anak yang paling 'melek huruf’ (literate). Anak-anak yang suka dan pandai membaca tentulah cikal bakal orang dewasa yang cerdas dan berkualitas; tentu hal ini lah yang juga kita inginkan dari generasi penerus kita.


Tita, September 2005

aladin dan lampu ajaib

Aladin dan lampu ajaib PDF Print E-mail
Aladin adalah seorang laki-laki yang berasal dari Negara Persia. Dia tinggal berdua dengan ibunya. Mereka hidup dalam kesederhanaan. Hingga pada suatu hari ada seorang laki-laki yang datang kerumah Aladin. Laki-laki itu berkata kalau dia adalah saudara laki-laki almarhum bapaknya yang sudah lama merantau ke Negara tetangga. Aladin dan ibunya sangat senang sekali, karena ternyata mereka masih memiliki saudara.
“Malang sekali nasibmu saudaraku”, kata laki-laki itu kepada aladin dan ibunya. “Yang penting kita masih bisa makan,paman”, jawab Aladin. Karena merasa prihatin dengan keadaan saudaranya tersebut, maka laki-laki itu bermaksud untuk mengajak Aladin ke luar kota. Dengan seijin ibunya,lalu Aladin mengikuti pamannya pergi ke luar kota.
Perjalanan yang mereka tempuh sangat jauh sekali, dan pamannya tidak mengijinkan Aladin untuk beristirahat. Saat Aladin meminta pamannya untuk berhenti sejenak, pamannya langsung memarahinya. Hingga akhirnya mereka sampai di suatu tempat di tengah hutan. Aladin lalu diperintahkan pamannya untuk mencari kayu bakar. “Nanti ya paman, Aladin mau istirahat dulu”, kata Aladin. Pamannya sangat marah setelah mendengar jawaban Aladin tersebut. “Berangkatlah sekarang, atau kusihir engkau menjadi katak”, teriak pamannya. Melihat pamannya sangat marah,lalu Aladin bergegas berangkat mencari kayu.
Setelah mendapatkan kayu, pamannya lalu membuat api dan mengucapkan mantera. Aladin sangat terkejut sekali, karena setelah pamannya membacakan mantera, tiba-tiba tanah menjadi retak dan membentuk lubang. Aladin mulai bertanya pada dirinya sendiri, “Apakah dia benar pamanku? Atau dia hanya seorang penyihir yang ingin memanfaatkan aku saja?”
“Aladin, turunlah kamu kelubang itu. Ambilkan aku lampu antic di dasar gua itu”, suruh pamannya. “AKu takut paman”, kata Aladin. Pamannya lalu memberikan cincin kepada Aladin. “Pakailah ini, cincin ini akan melindungimu”, kata pamannya. Kemudian Aladin mulai turun kebawah.
Setelah sampai di bawah, Aladin sangat takjub dengan apa yang dia lihat. Di dasar gua tersebut Aladin menemukan pohon yang berbuahkan permata dan banyak sekali perhiasan. “Cepat kau bawa lampu antiknya padaku, Aladin. Jangan perdulikan yang lain”, teriak pamannya dari atas. Aladin lalu mengambil lampu antik itu, dan mulaimemanjat ke atas. Tetapi setelah hamper sampai di atas, Aladin melihat pintu gua sudah tertutup dan hanya terbuka sedikit. Aladin mulai berpikir kalau pamannya akan menjebaknya. “Cepat Aladin, lemparkan saja lampunya”, teriak pamannya. “Tidak, aku tidak akan memberikanlampu ini, sebelum aku sampai di atas”,jawab Aladin.
Setelah berdebat, paman Aladin menjadi tidak sabar dan akhirnya "Brak!" pintu lubang ditutup, dan pamannya meninggalkan Aladin terkurung di dalam lubang bawah tanah. Aladin menjadi sedih, dan duduk termenung. Kini dia tau kalau sebenarnya laki-laki tersebut bukanlah pamannya, dan dia hanya diperalat oleh laki-laki itu. Aladin lalubmencari segala cara supaya dapat keluar dari gua, tetapi usahanya selalu sia-sia. "Aku sangat lapar, dan ingin bertemu ibuku, ya Tuhan, tolonglah hambamu ini !", ucap Aladin.
Lampu AladinSambil berdoa, Aladin mengusap-usap lampu antik dan berpikir kenapa laki-laki penyihir itu ingin sekali memiliki lampu itu. Setelah digosok-gosok, tiba-tiba di sekelilingnya menjadi merah dan asap membumbung. Bersamaan dengan itu muncul seorang raksasa. Aladin sangat ketakutan. "Maafkan saya, karena telah mengagetkan Tuan", saya adalah Jin penunggu lampu. Apa perintah tuan padaku?”, kata raksasa "Oh, kalau begitu bawalah aku pulang kerumah." "Baik Tuan, naiklah kepunggungku, kita akan segera pergi dari sini", kata Jin lampu. Dalam waktu singkat, Aladin sudah sampai di depan rumahnya. "Kalau tuan memerlukan saya, panggillah saya dengan menggosok lampu itu".
Aladin menceritakan semua hal yang di alaminya kepada ibunya. "Mengapa penyihir itu menginginkan lampu kotor ini ya ?", kata Ibu Aladin. “Ini adalah lampu ajaib Bu!”, jawab Aladin. Karena ibunya tidak percaya, maka Aladin lalu menggosok lampu itu. Dan setelah Jin lampu keluar, Aladin meminta untuk disiapkan makanan yang enak-enak. Taklama kemudian ibunya terkejur,karena hidangan yang sangat lezat sudah tersedia di depan mata.
Demikian hari, bulan, tahunpun berganti, Aladin hidup bahagia dengan ibunya. Aladin sekarang sudah menjadi seorang pemuda. Suatu hari lewat seorang Putri Raja di depan rumahnya. Ia sangat terpesona dan merasa jatuh cinta kepada Putri Cantik itu. Aladin lalu menceritakan keinginannya kepada ibunya untuk memperistri putri raja. "Tenang Aladin, Ibu akan mengusahakannya". Ibu pergi ke istana raja dengan membawa permata-permata kepunyaan Aladin. "Baginda, ini adalah hadiah untuk Baginda dari anak laki-lakiku." Raja amat senang. "Wah..., anakmu pasti seorang pangeran yang tampan, besok aku akan datang ke Istana kalian dengan membawa serta putriku". Setelah tiba di rumah Ibu segera menggosok lampu dan meminta Jin lampu untuk membawakan sebuah istana. Aladin dan ibunya menunggu di atas bukit. Tak lama kemudian jin lampu datang dengan Istana megah di punggungnya. "Tuan, ini Istananya". Esok hari sang Raja dan putrinya datang berkunjung ke Istana Aladin yang sangat megah. "Maukah engkau menjadikan anakku sebagai istrimu ?", Tanya sang Raja. Aladin sangat gembira mendengarnya. Lalu mereka berdua melaksanakan pesta pernikahan.
Tidak disangka, ternyata si penyihir ternyata melihat semua kejadian itu melalui bola kristalnya. Ia lalu pergi ke tempat Aladin dan pura-pura menjadi seorang penjual lampu di depan Istana Aladin. Ia berteriak-teriak, "tukarkan lampu lama anda dengan lampu baru !". Sang permaisuri yang melihat lampu ajaib Aladin yang usang segera keluar dan menukarkannya dengan lampu baru. Segera si penyihir menggosok lampu itu dan memerintahkan jin lampu memboyong istana beserta isinya dan istri Aladin ke rumahnya.
Ketika Aladin pulang dari berkeliling, ia sangat terkejut karena istananya hilang. Aladin lalu teringat dengan cincin pemberian laki-laki penyihir. Digosoknya cincin tersebut, dan keluarlah Jin cincin. Aladin bertanya kepada Jin cincin tentang apa yang sudah terjadi dengan istananya. Jin Cincin kemudian menceritakan semuanya kepada Aladin. "Kalau begitu tolong bawakan istana dan istriku kembali lagi kepadaku”, seru Aladin. "Maaf Tuan, kekuatan saya tidaklah sebesar Jin lampu," kata Jin cincin. "Kalau begitu, Tolong Antarkan aku ke tempat penyihir itu. Aku akan ambil sendiri", seru Aladin. Sesampainya di Istana, Aladin menyelinap masuk mencari kamar tempat sang Putri dikurung. Putri lalu bilang kalau penyihir itu sedang tidur karena kebanyakan minum Bir. Setelah mengetahui kalau penyihir itu tidur, maka Aladin menyelinap ke dalam kamar laki-laki penyihir tersebut.
Setelah berhasil masuk dalam kamar, Aladin lalu mengambil lampu ajaibnya yang penyihir dan segera menggosoknya. "Singkirkan penjahat ini", seru Aladin kepada Jin lampu. Penyihir terbangun, lalu menyerang Aladin. Tetapi Jin lampu langsung membanting penyihir itu dan melemparkan ke luar istana. "Terima kasih Jin lampu, bawalah kami dan Istana ini kembali ke tempatnya semula". Sesampainya di Persia Aladin hidup bahagia. Ia mempergunakan sihir dari peri lampu untuk membantu orang-orang miskin dan kesusahan.

Dongeng "Aladin dan lampu ajaib" ini diceritakan kembali oleh kak Ghulam Pramudiana