Peran Gambar dalam Buku Dongeng Anak:
Kisah Thé Tjong-Khing (Purworejo, 1933), seorang ilustrator buku cerita
anak-anak yang kondang di BelandaKala kita kecil dulu
orang tua kita sering memberikan buku-buku cerita anak-anak yang isi
halamannya tipis, tulisannya sedikit, sederhana dan mudah dimengerti
oleh anak-anak. Hal terpenting selain itu semua adalah gambar-gambarnya
yang menarik dan memancing imajinasi, sehingga anak-anak terpancing
untuk membaca dan mengetahui isi bukunya. Orang tua kita dulu juga punya
kebiasaan menceritakan dongeng sebelum kita tidur. Saat itu khayalan
anak-anak terbang menjulang menembus batas-batas logika orang dewasa.
Imajinasi anak-anak memang seringkali membumbung tinggi dan orang dewasa
hanya bisa tersenyum dan berkomentar, “dasar anak-anak”. Lain ceritanya
jika ada orang dewasa yang nekad terjun ke dunia anak-anak, melalui
dongeng.
Khing, sapaan akrab
Thé Tjong-Khing,
mungkin tidak dikenal anak-anak Indonesia. Kiprah beliau sebagai
seorang pembuat ilustrasi buku cerita anak-anak berada jauh di Belanda.
Gaya menggambarnya sangat digemari anak-anak di Belanda. Lantas seberapa
jauh Khing mendalami dunia buku anak-anak ini?
Salah satu halaman pada Waar is de Taart?Woutertje Pieterse Prijs, penghargaan tertinggi untuk buku cerita anak-anak (
children literature) di Belanda, tahun 2005 ini dianugerahkan kepada buku berjudul “
Waar is de Taart?”
karya Thé Tjong-Khing. Penganugerahan penghargaan Woutertje Pieterse
kali ini benar-benar mengejutkan, karena penghargaan yang biasa
diberikan pada buku cerita baru pertama kali ini diberikan kepada sebuah
buku yang hanya berisikan gambar-gambar, sama sekali tanpa kata-kata.
Terlebih lagi, penghargaan yang biasanya diberikan kepada penulis,
pertama kalinya diberikan kepada seorang ilustrator. Thé Tjong-Khing,
yang memang sudah kondang sebagai ilustrator buku cerita anak-anak di
Belanda, juga patut berbangga, sebab “
Waar is de Taart?”
adalah buku pertama yang ia garap sendiri, mulai dari ide, skenario,
hingga pelaksanaannya. Yang menarik lagi bagi kita adalah latar belakang
Thé Tjong-Khing, yang ternyata kelahiran Purworejo dan sempat mengecap
pendidikan di akademi senirupa di Bandung (kini Fakultas Seni Rupa dan
Desain ITB), di mana kawan-kawan masa studinya banyak yang kita kenal
sekarang, antara lain
“Pak Raden” Soejadi,
Prof. Sudjoko, dan (alm.)
But Muchtar.
Berikut adalah sekelumit kisah perjalanan karir Thé Tjong-Khing, yang
akrab dengan panggilan Khing, sejak meninggalkan Indonesia dan mulai
menetap di Belanda, hingga sekarang.
Khing (ketiga dari kiri, mengenakan topi) bersama teman2 kuliahnya dI Bandung. Paling kanan adalah 'Pak Raden' Soejadi
Khing (kanan depan) bersama teman2 kuliahnya di BandungDi
usianya yang menjelang 72 tahun, Khing tampak masih enerjik dan penuh
semangat, perilakunya yang ramah dan periang, dan rasa humor yang tinggi
pastilah turut membuatnya awet muda. Sehari-harinya dihabiskan untuk
bekerja di studionya, yang adalah juga rumah kediamannya di Haarlem.
Sementara, di waktu senggangnya, Khing mengunjungi dan terkadang juga
mengasuh keempat cucu balitanya, para buah hati dari kedua putranya yang
tinggal di Amsterdam. Ketika dijumpai sore itu di kediamannya, Pak
Khing tengah menggarap buku berikutnya,
“Waar is de Taart?”
seri kedua, dan ia dengan senang hati menunjukkan lembaran-lembaran
gambar yang telah diselesaikannya. Sambil menikmati ‘jajanan pasar’ yang
dihidangkan, Khing mulai menceritakan masa lalunya.
Thé Tjong-Khing, duduk santai di kediamannyaSi
Khing kecil, pada usia sekitar 12 tahun, sudah berketetapan untuk
mengisi hidupnya dengan menggambar. Pada awalnya, ia banyak meniru tokoh
kartun Walt Disney, terutama Mickey Mouse dan Donald Duck, dan hasilnya
sangat baik, hingga pernah suatu kali seorang pamannya mempertontonkan
kemampuannya di depan banyak orang. Menginjak usia remaja, ia mulai
menggambar bintang-bintang film masa itu, seperti Marilyn Monroe dan
Sophia Loren, untuk diberikan kepada teman-temannya para pengagum para
bintang film tsb. Kala itu Khing juga gemar membaca dan meniru cerita
bergambar (cergam)
“Flash Gordon” karya
Alex Raymond.
Mengingat kegemarannya menggambar, tidaklah heran ketika Khing memilih
untuk melanjutkan studi di akademi senirupa di Bandung. Namun, karena
Khing merasa tidak puas dengan apa yang diperolehnya di Bandung, ia
pergi ke Belanda pada tahun 1956, dengan tekad untuk mencoba
peruntungannya di sana. Ternyata pilihannya ini tidak keliru, sebab
keberuntungan benar-benar datang kepadanya, di setiap saat ia
memerlukannya.
Salah satu halaman pada seri Arman & IlvaSetiba di Belanda, Khing memulai studinya di jurusan periklanan di
Kunstnijverheidsschool (kini
Rietveld Academie) di Amsterdam. Namun di sini pun ia tidak betah dan keluar sebelum menyelesaikan studinya. Ia melamar kerja di
Marten Toonder Studio, yang pada masa itu termasuk studio komik terbesar di Belanda (cergam Toonder yang paling terkenal berjudul
“Tom Poes en Heer Bommel”),
dengan menunjukkan portfolio hasil karyanya selama ia belajar di
Bandung. Meskipun lamarannya ditolak, Khing tetap memohon pada Marten
Toonder agar diperbolehkan tinggal di studionya, hanya dengan satu meja
dan kursi, untuk bekerja apapun, tanpa bayaran. Di sini keberuntungan
pertama Khing datang: studio Toonder mengabulkan permohonannya ini, dan
bukan hanya meja-kursi yang mereka sediakan, namun mereka juga membayar
Khing sejumlah 60 Gulden per minggu, yang pada masa itu adalah jumlah
yang cukup besar untuk seorang pemagang.
Khing banyak belajar sambil membantu para karyawan gambar (
draftsmen)
di studio Toonder. Ia melihat bahwa seorang karyawan gambar di studio
Toonder, yang bekerja membuat cergam bersambung untuk sebuah harian,
selalu terpaksa membawa pulang pekerjaannya. Khing tahu bahwa istri si
karyawan tersebut sebenarnya keberatan dengan kebiasaannya ini, namun
mereka tak punya pilihan lain. Khing pun menawarkan jasanya untuk
membantu koleganya ini sehingga ia dapat berakhir-pekan dengan
keluarganya tanpa dibebani pekerjaan. Lama kelamaan, si kolega ini tak
mau kehilangan Khing sebagai asistennya. Inilah yang sebenarnya
direncanakan oleh Khing, untuk memperoleh cara agar dapat tetap tinggal
di Belanda setelah masa ijin tinggalnya habis. Sehingga ketika polisi
imigrasi Belanda hendak menggiring Khing ke pelabuhan untuk dipulangkan
ke Indonesia, studio Toonder berhasil mencegah kepergian Khing dengan
menyatakan pada polisi imigrasi bahwa Khing adalah pegawai mereka,
tanggung jawab mereka. Sejak itu resmilah Khing menjadi pegawai di
Toonder Studio.
Setelah beberapa lama bekerja untuk Toonder
Studio, Khing memutuskan untuk keluar dan membuat komiknya sendiri. Ini
adalah masa ketika ia memulai cergam fiksi-fantasi berserinya, bersama
penulis bernama
Lo Hartog van Banda, untuk dimuat dalam surat kabar. Seri fiksi-fantasi berjudul
“Arman & Ilva” ini kemudian diterbitkan sebagai album cergam, dan memperoleh penghargaan
SFAN (
Vereniging voor Science Fiction & Fantasy)
pada tahun 1971. Di tengah-tengah penggarapan cergam ini, Khing
berpikir untuk mengerjakan hal lain, seperti ilustrasi. Di sinilah
keberuntungan datang lagi padanya. Ia bertemu seseorang di sebuah pesta:
Ton Schelling, seorang penulis
buku cerita anak-anak. Kebetulan penulis ini berdarah campuran
Indonesia-Belanda, dan dikenal sebagai orang yang sangat impulsif. Ia
begitu senang bertemu dengan seorang yang juga berasal dari Indonesia
dan pandai menggambar, sehingga dengan segera ia menawarkan Khing untuk
menjadi ilustrator buku-bukunya. Khing segera menerima tawarannya dan
mereka mulai bekerja sama. Tulisan-tulisan Schelling merupakan seri
petualangan untuk anak muda, dan gaya gambar Khing pada buku-buku
Schelling merupakan transisi dari gaya cergam fiksi-fantasi menjadi gaya
ilustrasi untuk buku cerita. Sementara bekerja dengan Schelling, Khing
masih menyelesaikan seri
"Arman & Ilva“,
namun baginya pembuatan cergam dirasanya terlalu banyak memakan waktu
dan terlalu monoton. Sehingga Khing memutuskan untuk meninggalkan komik
untuk beralih ke ilustrasi, menghadapi tantangan baru.
Salah satu halaman pada seri Arman & IlvaTepat
pada saatnya, Khing menemukan keberuntungannya yang berikut, yang
membawanya ke gaya gambar yang merupakan ciri khasnya hingga kini. Ia
dihubungi oleh seorang penulis buku anak-anak yang hendak mengubah
anggapan bahwa cergam atau komik hanyalah membuat anak-anak bodoh. Untuk
mengubah anggapan ini, si penulis berencana mengambil ilustrator yang
adalah juga komikus, dan pilihannya jatuh pada Khing. Semua
keberuntungan ini, dilihat Khing juga dibantu oleh fakta bahwa pada masa
itu belum banyak orang yang sepenuhnya bekerja sebagai praktisi
ilustrator atau komikus profesional, dan gaya dan teknik menggambar pun
masih terbatas, sehingga mempermudah Khing memperoleh berbagai
kesempatan tersebut. Sejak beralih dari komik ke ilustrasi, hingga kini
Khing tetap menekuni profesi sebagai ilustrator dan belum membuat komik
lagi. Namun namanya tetap diaku sebagai salah seorang tokoh penting
dalam sejarah komik Belanda.
Khing telah mendapat beberapa penghargaan tertinggi untuk ilustrasi, antara lain
Gouden Penseel yang diperolehnya sebanyak tiga kali: pada th 1978 (untuk buku berjudul "
Wiele Wiele Stap“), 1985 ("
Kleine Sofie en Lange Wapper“) dan 2003 ("
Het woordenboek van Vos en Haas“),
Jonge Uil pada sekitar th 1999 untuk "
Vos en Haas“ dan puncaknya adalah
Wouterje Pieterse Prijs untuk "
Waar is de Taart?“ pada tahun 2005. Khing mengakui bahwa "
Waar is de Taart?“
merupakan karyanya yang paling memuaskan dan adalah prestasinya yang
tertinggi, namun ia juga sangat menyukai karyanya pada buku "
Het Grote Avontuur van God en Mens“ (2004), yang berisi kisah-kisah dari alkitab untuk anak-anak.
Dari sekian banyak karya Khing, hanya satu yang menghubungkannya kembali ke Indonesia. Khing pernah bekerja sama dengan
Fair Trade untuk membuat buku anak-anak berjudul "
Komkommermeisje“ (2003) yang merupakan adaptasi dari kisah "
Timun Mas“.
Buku ini diterbitkan oleh Fair Trade dalam rangka mempromosikan produk
kerajinan dari negara-negara berkembang, termasuk Indonesia. Khing
dengan sendirinya terpilih untuk menggarap buku ini karena reputasi
sekaligus latar belakangnya. Impresi hutan yang rimbun dan pohon
beringin raksasa Khing dapatkan dari pengalamannya kala masih bocah
dulu, di rumah orang tuanya di Cirebon.
Beringin raksasa pada buku Komkommermeisje (Timun Mas) Di
samping menggambar komik dan ilustrasi, Khing sempat mencoba
mengerjakan hal-hal lain. Pada sekitar tahun 1980an, Khing sempat
diminta untuk mengajar di jurusan ilustrasi pada Rietveld Academie di
Amsterdam. Ia mencoba mengajar selama beberapa saat, namun segera
mengundurkan diri karena menyadari bahwa ia tidak memiliki ketrampilan
untuk mengajar dan merasa tak bisa menjadi guru yang baik. Sejak itu ia
memutuskan untuk terus memproduksi gambar saja, dan tidak lagi hendak
mengajar.
Setelah menggarap ilustrasi untuk sekian banyak buku dan
skenario, Khing sempat tergoda untuk menulis cerita sendiri. Terutama
saat ia menerima sebuah transkrip dari salah satu penerbitnya untuk
dibuatkan ilustrasi, yang dianggapnya sangat buruk, sehingga makin
memotivasinya untuk membuat transkrip yang lebih menarik dari yang satu
ini. Khing menulis selama beberapa bulan dan setelah selesai, ia merasa
puas akan tulisannya. Namun ketika ia baca kembali teksnya setelah
sekian lama, ia menyadari bahwa tulisannya jauh lebih buruk dari
transkrip yang pernah ia terima dari penerbitnya. Khing pernah mencoba
menulis sekali lagi, namun tetap saja gagal. Hal ini juga yang
memotivasinya untuk membuat buku tanpa kata-kata; inilah awal dari ide
pembuatan buku "
Waar is de Taart?“.
Hal
yang paling menantang dari pembuatan buku tanpa kata-kata adalah
kejelasan gambar dalam menceritakan sebab-akibat dan kesinambungan.
Khing telah berhasil mewujudkan hal ini, mengingat pendapat juri
Woutertje Pieterse Prijs bahwa buku ini telah dapat menceritakan
semuanya dengan baik, tanpa kehilangan satu kata pun. Dengan buku "
Waar is de Taart?“,
Khing juga hendak membuat pembacanya membolak-balik halaman, dari
belakang ke depan, dan sebaliknya, dan seterusnya, untuk menemukan
sekian banyak sekuel cerita yang disampaikannya melalui gambar. Hal ini
pun telah tercapai dengan baik, melihat begitu banyaknya detail menarik
yang dapat dilacak dari tiap halaman dalam bukunya ini.
Tokoh2 pada buku Vos en Haas, yg telah banyak dikenal anak2 BelandaHingga
kini, Khing masih terlihat selalu cekatan dan bersemangat dalam
menggarap karya-karyanya, dan mewujudkan rencana-rencananya.
Kecintaannya pada pekerjaan dan sikap positifnya dapat menjadi contoh
yang berharga bagi para penerusnya. Berbagai penghargaan yang
diterimanya tidak membuatnya besar kepala, bahkan sebaliknya, makin
memacunya untuk terus menghasilkan yang terbaik.
Khing mengakui bahwa
dalam usianya kini, produktivitasnya menurun. Ia tak dapat lagi
begadang menyelesaikan gambar, atau bekerja hingga larut malam, dan ia
hanya dapat bekerja dengan baik dengan cahaya natural, bukan cahaya
lampu. Namun demikian, bila ditanya apa yang membuatnya terus produktif
hingga kini, Khing hanya tertawa dan menjawab "Sebab saya tidak tahu
berbuat apa lagi selain menggambar. Mungkin saya hanya akan duduk
berdiam diri di pojok sana, sebab tak tahu mau berbuat apa lagi. Jadi
selama masih bisa menggambar, saya akan tetap melakukan itu“.
Menara Babel
Kita bisa belajar banyak dari kisah perjalanan karir Khing. Semangat
dan ketekunannya dapat menjadi inspirasi bagi banyak ilustrator muda,
tidak hanya di Belanda, namun juga kita di Indonesia. Terutama untuk
memperbaiki kualitas dan kuantitas buku cerita anak-anak produksi dalam
negri, yang perkembangannya tidak terlalu pesat – apalagi bila
dibandingkan dengan limpahan seri komik impor atau computer game
terbaru.
Sikap Khing yang pantang menyerah juga patut menjadi
contoh. Di kala terbentur masalah, atau berniat menghadapi tantangan
baru, Khing selalu bertekad mencari jalan keluar dengan mengandalkan
segenap kemampuannya. Usaha Khing ini juga tidak sia-sia, mengingat
besarnya perhatian dan dukungan dari berbagai pihak untuk mengadakan
wacana bagi anak-anak: orang tua, pemerintah, penerbit, berbagai
institusi, dan yang terpenting, anak-anak sendiri.
Mengagumkan,
memang, bahwa di negara maju seperti Belanda, di mana berbagai macam
media dapat diakses dengan bebas, buku cerita anak-anak masih mendapat
tempat khusus. Salah satu hasilnya adalah fakta bahwa anak-anak Belanda
menduduki peringkat kedua di dunia (setelah Swedia) sebagai anak-anak
yang paling 'melek huruf’ (
literate).
Anak-anak yang suka dan pandai membaca tentulah cikal bakal orang
dewasa yang cerdas dan berkualitas; tentu hal ini lah yang juga kita
inginkan dari generasi penerus kita.
Tita, September 2005